Penatku hilang
tapi nambah dengan tak terduga~
apakah hidup memang terus begini?
huhuhu
aku kadang takut menghadapi kenyataan
ku takut tak mampu menggenggamnya sendirian~
aku belum ingin pergi dari duniaku
dunia yang meLindungiku~
aku~ mungkin terlalu lemah~
aku harus menjadi dewasa
tapi aku aku belum ingin melakukannya~
aku hanya ingin hidup bahagia
dengan diriku yang apa adanya
seburuk dan sejelek apapun aku
itulah aku
`
bukan orang lain
bukan kamu
dan tentunya juga bukan batu!!
aku hidupp!
aku hidup dengan segala permasalahan dan cinta yang menyertaiku~
perasaan benci dan cinta menjadi satu
itulah manusia-manusia pada umumnya
orang awam
orang kebanyakan~
aku~
entah masuk tipe yang mana~
bidadari bersayap iblis
iblis bersayap bidadari
atau malaikat yang bersayap iblis??
itu bisa saja kamu~
bukan aku~
tapi bisa juga
dan bukan kamu~
terserak kamu mau yang mana
ini pilihan
hidup itu sebuah pilihan
mau hidup
mau mati
mau tak perduli
atau terlalu perduli
itu aku
bukan kamu!!
Catatanku hari ini~
Pedih itulah yang ku rasakan
Mungkin aku pengecut
Dan penakut
Setiap membaca
atau menghadapi kenyataan yang ku temui dengan tiba-tiba
Hatiku sakit kalut dan pedih
Seperti ketakutanku pada warna gelap
Kelam
Gelap dan menyesakkan
Hatiku sakit
Nafasku tak menentu
Dadaku naik turun seiring degup jantung yang bergemuruh
Hari ini ku temui lagi
Hal yang tak ku anggap wajar~
Beginikah dunia yang sebenarnya?
Atau hanya orang-orang saja yang berperilaku tidak seperti manusia pada umumnya?
Mengapa harus membunuh?
Mengapa harus membenci?
Mengapa harus berbohong?
Aku sakit
Aku tidak dapat menerima itu dengan baik
Apakah aku yang tidak waras?
Hahaha
itu
Tidak mungkin~
Hamphhh~
Ku hembuskan saja nafasku pada udara yang dingin
Aku dapat melihat kabut putih itu
Kabut manusia
Hati manusia yang dalam
Terkoyak lagi kantong perihku
Menyayat goresan luka disana
kini ia robek dengan sempurna
bercucuran seperti bentuk air mata
amarah ku kandas
jantungku sakit
aku tak dapat menerima kenyataan ini
perselingkuhan
perbudakan diri
lagi
aku terhenyak dalam pernyataanku sendiri.
Pertanyaan yang tak bisa ku mengerti
dunia telah menodaiku dengan kenyataannya yang pahit
hatiku yang sepolos salju
perasaanku yang seperti tepung
putih
lembut
seperti embun
kini tertaburi luka
luka pada kenyataan dunia
aku tak dapat melakukan apa-apa
semua itu sudah terjadi
jauh sebelum aku menyadarinya
kenyataan dunia?
Atau setan dunia?
IA menempeL erat
Sepeti permen karet!
Manusia~
Sebegitu agungkah ia?
Sehingga tak ada yang menentangnya sebelum aku?
Ahhh~
jiwaku yang polos~
Kini ia telah ternodai dunia~
Baru saja aku membacanya
Novel yang mengambil tema perselingkuhan~
pembunuhan ~ dan
ketidakwarasan manusia
Alur yang membuatku tak menyadarinya
Tema yang paling anti ku baca
Yang paling tidak ingin aku baca sebelumnya
Seumur hidupku tak membenarkannya
Perselingkuhan
Pembunuhan
Kebohongan yang di simpan rapi
Aku tak suka itu
Tak ingin membacanya
Jiwaku tak menerimanya
Itu
Dosa!
Dosa manusia
Aku tidak suka
Aku tidak bisa menerimanya
Mengapa harus terjadi?
Aaaaaaaahhhhhhhhh
Aku tertipu
Wajah dari kata-kata novel itu membohongiku
Ia tak berkata jujur
Kepadaku! Sebelumnya!
Sambil berlinang air mata
Ku tatap lagi buku novel itu
Mengapa tak kau jelaskan kepadaku sebelumnya?
Bahwa kau mengandung kepahitan duniA?
Tak kau rasakan kah sakitnya aku?
Detik ku berhenti~
Degupnya melemah lunglai
Terduduk lemas kaki ku bergetar
Ketika sampul terakhir ku baca
Sinopsis cerita
Ia sudah berkata jujur disana
Bahkan lebih terang-terangan
Sebelum aku menyentuhnya
“pembunuhan, perbudakan, pergolakan diri”
Aahh~
Seandainya aku lebih cepat sadar
Tak ku ingin menyentuhnya~
ceroboh
Lagi-lagi itu mengiringiku
Seakan tak ingin lepas dari
Betulkah ini hanya kebetulan?
Kebetulan untuk ku mengetahui bobroknya manusia?
Aku memang sudah tua
Usiaku bukan lagi golongan anak-anak
Tapi tak tahukah hatiku yang selembut bayi?
Kesedihan kata itu menyayatku
Seakan hidup menjadi tokohnya
Aku “mati”
Bunuh diri
Tidak!!!!!!!!!!!!!
Aku tak ingin itu
Akhir yang bahagia
Itu yang ku inginkan
Seperti di dalam dongeng
Ibuku selalu mengakhiri kisahnya dengan kebahagiaan
Dimana jam-jam malam ku terlena
Semua orang baik
Tidak ada kebohongan
Karena jika berbohong hidungku yang memang sudah mancung ini
akan menjadi panjang seperti hidung pinokio
tak ada hal lain yang membuatku curiga
bahwa kebohongan selalu mewarnai wajah manusia
sebagaimana aku
itulah yang ku prasangka kepada orang lain
jujur~
itulah aku
mungkin terlalu naif bagimu
aku orang yang apa adanya
jika marah aku akan marah
jika sedih aku tak segan untuk menangis di tempat
jika aku sebal
aku akan bilang,”kau tahu aku sedang sebal”
jika aku berbohong aku akan mengatakannya, itu benar
kemarin aku berbohong kepadamu tentang masalah alas kakiku
tapi itu tidak di sengaja
mungkin
aku hanya ingin meramaikan suasana
ahhh~
ternyata semua orang tak sama
harusnya aku tahu itu
tapi lagi-lagi kepolosan men-sucikan hati ku
pikiranku yang selalu tertata
sejalan dengan rasionalisme
“aku golongan putih”
Itu yang selalu ku katakan
Ahhh ~
tak lelahkah dunia di luar
Aku belum ingin keluar dari duniaku
Aku selalu merasa aman disini
Terjaga dari pikiran kotor yang busuk
Mengapa jalanan trotoar itu membisikkan kalimat-kalimat benci di telingaku?
Aku tidak suka
Kebodohan dunia telah mengais luka di hatiku
Kamu yang mengenalkanku kepada hitamnya hati manusia!!
Tolol!
Kamu tidak mengerti!
Aku belum bisa menerima semua ilmu kebejatan ini sekaligus!
Apa kau tak tahu?
Setiap aku tahu busuknya akal manusia
Aku akan merasakannya dikala rasa sakit menghimpit sum-sumku!
Saat kau membohongiku
Aku akan tahu bahwa itu kebohongan
Dan entah kenapa ada rasa jijik yang manis ketika aku menirunya!
Kau kelihatannya senang?
Aku mempelajarinya dari kamu!
Cih~
Senyum mu menebarkan luka!
Disaat kau mengkhianatiku
Dari
Pada warna ungu yang penuh mistis
Matamu ungu
Seperti lautan yang selalu kau gambarkan kepadaku
Aahhh~
Dari pada warna gelap
Yang tak ku sukai~
ternyata
Aku lebih takut kepada matamu~
Catatanku
Betapa Polosnya aku~
My Fair Lady
Bab 2
Bagian Pertama
Bunga sakura, kencan Nadheshiko dan warna pinku
Pagi dengan warna pink yang menyapu setiap sudut rumah. Bukan warna cat rumah itu yang berwarna pink. Tapi, pernak-perniknya. Taplak meja tamu, Morning Glory yang bersemi di vas bunga, detik jam dinding, dan warna sandal rumahnya. Lagi-lagi pemilihan warna yang manis. Anak tangga menuju lantai dua itu berselimut biru yang lembut, dengan hijau daun yang mengiringi di tiap ujung-ujungnya. Dhe chan menuruni tangga dengan mata yang masih mengantuk.
“Ohayou~ dhe chan” pemuda yang berdiri di ruang keluarga itu menyapa
Nadheshiko lembut. Memberikan senyumannya.
“Ahh niichan~ ohayou~” senyum manis Nadheshiko memeluk kakak laki-lakinya erat.
“Tumben bangun pagi~
padahal hari minggu ne?” Tanya laki-laki yang berwajah cantik itu.
“Ehehe ~ dhe lapeerr niichan~” kali ini ia bergelayutan di lengan kakaknya.
“Hmm? Mau di masakkan apa?” Tanya kakaknya bijaksana, memandang adiknya itu penuh sayang.
“Hihiihi apa aja deh niichan~ asal jangan tempura ya?”
“Hehe wakatta! kalau gitu nasi goreng saja ya dhe” Dhe chan manggut-manggut
setuju dengan tawaran kakaknya yang langsung melangkah ke dapur.
Dhe chan masih manggut-manggut senang. Ia berhenti menggoyangkan kepalanya ketika merasakan satu jitakan ringan di kepalanya itu.
“itaai yo~” mengusap-usap kepalanya yang tidak sakit, dhe chan berbalik.
“Kenapa?
“Bukannya kakak suka sekali tempura udang ne?” Tampak baru dari latihan fisik
paginya. Ia sudah mandi, membawa satu botol air mineral dan handuk kecil.
“Ahhh Gin~Kooooo~” sengaja memanjangkan kata ‘ko’ dhe chan berlari kearah
adik laki-lakinya itu.
“Ohayooou~” peluk dhe chan lagi. Manja.
“Hei neechan belum jawab pertanyaanku” Ginko mengingatkan.
Menjauhkan dekapan dhe chan. Anak ini belum mandi. Pikir Ginko geli.
“Bhuu Ginko pelit T3T”
“Hahh? Apanya?” aku tidak ada melarang apa-apakan?” sahut Ginko bingung.
Ia mengernyit.
“Aku bosan memandang tepung tempura itu =_=” jawab dhe chan tanpa
menggubis pertanyaan ke dua Ginko.
“Hah?”
“Tadi malam Rurum memaksaku~ memasakkan tempura udang untuknya” keluh
dhe chan mengingat-ngingat.
(Rurum panggilannya untuk Ranko adik perempuannya)
“Kau tahu? Dia minta di buatkan tempuranya buaaanyaaak sekaliii >//<>
“Pantas saja dapur berantakan sekali pagi tadi.” Ternyata neechan yang memasak. Tidak heran. Kakak memang suka memasak, tapi payah sekali soal beres-beres barang.
“Kau tahu Gin??”
“aku tidak tahu”jawab Ginko dalam hati.
“Saking banyaknya! Bahkan aku merasa seperti masih mengaduk-ngaduk tepung
ketika aku tidur.” Kali ini ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sementara Ginko menyalakan televisi.
“Memangnya buat apa Ranko minta di buatkan sebanyak itu?”
“Mana aku tahu coba?”
“Hihihi… mungkin mau kencan” celetuk Ginko ringan.
“Haah? Yang benar saja! dia
“Neechan juga kencan di seumuran Ranko”sahut Ginko. Adil.
“Eehhh~ itu.. itu bukan kencan >//<” kilah dhe chan.
“U-s-o!!” menatap kakaknya ia menjulurkan lidahnya.
“Eehh ? uso janai~” ralat dhe chan.
“aku hanya mengajaknya ke taman bermain” bela dhe chan malu. Wajahnya
merah sekali kali ini.
“Apa? Sama aja
dari neechan” protes Ginko lagi.
“Hoe?” tak dapat menjawab sodoran pertanyaan Adiknya itu dhe chan bungkam.
Manyun di sofa menutup wajahnya dengan bantal.
Ginko tersenyum senang. Merasa menang, Ia duduk si sebelah kakaknya.
“Apa?” Tanya dhe chan masih malu.
“Nani monai~ fufufu”
“Aaahhh Gin kau curang! Kamu selalu membela Ranko! Sementara aku selalu
kau persalahkan! Aku
“Aku tidak bilang kakak melakukan apa-apa”
“ehh?”
“hmm jadi sekarang sudah bisa melakukan apa-apa nich?” goda Ginko tak ada
hentinya. Senang sekali mengerjai kakaknya. Mainannya di pagi hari.
“Aaahh yamette~
iie~ tiii~tidak!
tidak ada! aku tidak pernah begitu” ralat dhe chan kalang kabut.
“Maji?”
“Un, maji de!”jawabnya sungguh-sungguh. “Aku masih terlalu muda untuk
melakukan kencan sungguhan. Lagi pula kami baru 1 bulan jadian. Dan sudah dua minggu tidak bertemu =_=,” akhirnya kata-kata itu keluar juga, dhe chan sampai bangkit dari tempat duduknya yang nyaman. Sofa kesayangannya dan ayahnya.
“Hehehehe souka~ yokatta na~” Ginko hanya mesam-mesem. LEGA. Ia
mengganti chanel televisinya.
Sementara dhe chan yang duduk disebelahnya sedikit resah. Ginko tampak serius memandangi acara otomotif yang baru ditemukannyak kelihatannya ia suka.
“Suka memasak dan otomotif”
Dasar aneh! Pikir dhe chan memandang tontonan Ginko yang tak di mengertinya.
Tampak bosan dhe chan meninggalkan Ginko, menyusul kakak laki-lakinya ke dapur. Mencoba mengingatkan kakaknya untuk tidak memasukkan tempura di campuran nasi gorengnya.
“eehh? Pergi?” Ginko mengalihkan perhatiannya sejenak dari tontonannya.
Ditinggalkan dhechan.
Ginko menarik nafasnya, ada ketidakrelaan disana.
Ranko~
Ia sudah rapi di pagi hari libur-libur begini. Tidak keluar dari kamarnya, ia duduk di depan cermin. Mencoba menata rambut panjangnya dengan menguncir kelabang sebagian sementara yang lain dibiarkan tergerai. Tangannya terus sibuk, mengait dan menjalin rambutnya.
“Ini aneh~” protesnya sendiri dan membuka kepangan rambutnya. Bercermin lagi ia menatap rambutnya.
“Ahhh susah sekali di tata rapi!” ia mengikat rambutnya agak keras memasangkan pita rambutnya sekaligus.
“Di ikat satu aja udah” tampak tidak senang dengan hasil dandan-nya ia menunduk.
“kenapa rambutku tidak selurus rambut neechan?”tanyanya pada cermin.
“rambut ibu
“ehh? Cerminnya bisa ngomong hontou ni?” seperti cermin ajaib Ranko terkejut.
“Mana ada yang begituan!”kali ini suaranya lebih jelas.
“ehhh? Dareee?”
“baka! Ini aku abangmu!” suara itu berasal dari luar jendela. Ranko langsung membuka gorden kamarnya.
“kyaaa~ Gin-niichan” ranko menengadahkan kepalanya.
“kamu kira siapa?” Tanya Ginko mendekati wajah adik sematawayangnya itu.
“kenapa kakak ada disini?”
Masih dari luar jendela Ginko menjawab, “latihan, kayak biasanya”
“oohh~ ku kira tadi kakak mengintipku” ucap Ranko heran.
“haah? Siapa yang mau? Badan kurus begitu! Monyet aja ogah!”
“nani?” tampak murka Ranko menarik rambut kakaknya.
“iitaaai”
“huh!” Ranko menutup gorden kamarnya lagi.
Dari luar memang kadang orang bisa megintip, makanya gorden kamarnya jarang di buka. Dulu ini kamar milik dhe chan. kamar mungil di bawah tangga. Tapi, begitu dhe chan beranjak dewasa, ayahnya memindahkan kamar dhe chan ke lantai dua. Katanya “jaga-jaga dari pengintip”.
“uuuh dasar ayah! Kalo ranko yang di intip saja tidak perduli” amuknya membanting pintu kamarnya.
Langsung ke dapur, membuka microwave dan mengambil tumpukan tempura udang.
Hasil paksaannya kepada dhe chan. ranko memang belum pandai memasak. Wajar saja dia baru 12 tahun. Selama ini yang bertugas di dapur adalah kakak-kakaknya. Bergantian, ko, nadheshiko dan ginko memasak.
Tiga orang yang pandai memasak khususnya aniki dia pandai masak apa aja, sedangkan dhe-neechan hanya suka memasak yang di sukainya saja. kalau gin-niichan hanya mau memasak kalau mood nya lagi bagus. Tapi Massu niichan tidak bisa memasak. Dia Cuma bisa makan. Tapi, mie ramen bikinan massu-niichan sangat enak, dan sering membantuku mengerjakan PR hihihi
“enak juga punya banyak pembantu” pikir Ranko riang. Khas anak di awal masa remaja. Sibuk dengan pikirannya ia tak lupa memasukkan tempura udang hasil paksaan masaknya dhe chan ke dalam tempat makanan yang sudah disiapkannya tadi malam. Ia bergegas pergi.
“aku tak akan sisakan satu pun buat abang dan neechan” ancamnya kepada pintu rumah.
Rupanya pagi ini Ginko dan Nadheshiko sudah membuatnya kesal. Padahal dhe chan tidak tahu apa-apa. Bertemu saja belum dengannya. Karena Ranko sudah berangkat 15menit sebelum dhe chan bangun dari tidur neechannya yang tak nyenyak.
Tanpa berbalik lagi ia berlari menuju jalan. Rambut ombaknya berayun ditiup angin. Begitu juga dengan kibaran rok panjangnya. Ranko tersenyum manis menyusuri jalan dengan penuh rona merah di kedua pipinya.
Ranko adik~ku
My Fair Lady
Bagian 4
Yoshi’s darling_
Gerbang sekolah_
Jalan pulang_
Yoshi berdiri di pagar gerbang sekolah dhe chan. Cukup lama menunggu sosok gadis mungil itu keluar.
Ia bersandar saja di pintu pagar itu. Menikmati angin sepoi yang menyapanya lembut. Masih musim semi. Bunga sakura mekar di sepanjang jalan menuju sekolah dhe chan. Yoshi memandang lengan jaketnya. Disana tersemat satu kelopak sakura. Ia tersenyum. Warna pink yang lembut. Dhe chan suka sekali dengan warna itu. Tepatnya dengan warna sakuranya. Bukan karena warna pink-nya.
Lama ia menunggu. Tapi tak terdengar satu keluhanpun disana.
“Hmmmmphh” ia menarik nafas panjang. Mengingat.
Sudah lama sejak terakhir ia melewati pintu gerbang sekolah ini. 4 tahun yang lalu. Ia melewati gerbang ini dihari kelulusannya. Sejak itu, ia tak pernah datang kesini lagi. Banyak undangan yang datang dari klub musiknya terdahulu. Tapi tak pernah dihiraukannya. Ia cukup sibuk di kampusnya. Dan pekerjaan manggungnya. Yoshi termasuk golongan orang yang tak pandai berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, ia jarang mengikuti pertemuan semacam itu.
Hampir tak ada lagi anak-anak yang melewatinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia mendengar bisingnya gerombolan-gerombolan anak perempuan yang berbisik-bisik penasaran terhadap kehadirannya disana. Menyapanya dengan senyum atau hanya sekedar meliriknya. Tentu saja tak ada satu responpun yang keluar dari ekspresi wajah “cool”nya itu.
Masih dengan sabar dan tenang Yoshi menunggu.
Gerbang sekolah_
Jalan pulang_
My Fair Lady
Bagian 5
Pacar ku~
Sore itu langit tampak cerah.
Dhe chan dengan bawa’an bukunya yang berat
Jaket yoshi yang berkilau membelakangi matahari
Pemandangan yang kontras sekali
Dhe chan dengan kacamata miringnya
Dan senyum malu-malu Yoshi
Mereka bertemu~
Pacar ku~
Dia yang manis dan sedikit ceroboh
“Yocchan?” gadis mungil itu tak percaya dengan kata-katanya sendiri. Sosok itu sudah jelaskan?
Tapi kok bisa?
Bergegas ia membopong buku-buku tercintanya. Setengah berlari ia melewati lapangan tennis yang sepi itu.
****
“Deg” jantung dhe chan berdetak cepat. Terasa sampai ke ujung jarinya.
Itu Yocchan. Menunggu di pintu gerbang.
Matanya berkilauan. Air matanya akan segera tumpah.
Ia begitu merindukannya.
Sudah 2 minggu sejak terakhir kali mereka bertemu.
“Yocchan~” panggilan sayang dhe chan untuk Yoshihiro pacarnya.
Laki-laki itu tersenyum. Rindu.
dhe chan berlari.
Segera menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu.
Pacarku~
Nadheshiko say’s:
Dia menjemputku
Berdiri di depan pintu gerbang sekolah
Jantungku seakan berdetak keluar dari rongganya
Yocchan~
Dia tampak keren sekali
Bersandar di tembok pagar
Memasukkan tangan di kantong jaket hitamnya
Langkahku terhenti
Ia menatap kearah ku
Tersenyum malu
Mata beningnya menatap ku rindu
Aaaah~
Yocchan >//<
Aku menghambur ke dalam pelukannya
“Tidak apa-apakan?
Dia pacarku~”
My Fair Lady_
Yoshi’s heart:
Tubuh mungilnya berlari
Ia menatapku
Ku yakin kini bibirku sudah tersenyum sendiri
Dhe chan
Kacamatanya sedikit miring
Rambut nya mulai tak rapi
Pipinya memerah, karena berlari?
Tak sadar, semuanya begitu cepat
Sekarang dia sudah dalam dekapanku
Memelukku
Aku~
terlalu senang
tak ada yang bisa ku katakan
Gadis mungilku yang manis~
*Nadheshiko say’s_Yoshi’s Heart*
Otanjoubi Omedetou Dhe~
Met ULtah... untuk dhe~
Kegantengan Yuuri Chinen
Tak terbatas di sekolah >///< Kyaaaaaa
oooooooo my God~
ya ampooon Guanteng tenan~~~~~~
kakkoi chii~
kerendh >//<
Yuuri
terbang dalam
tarian gigi keLinci~mu. . .
My Princess xP
cuantik buangeth!
kyaaaa~ kakkoi >//,
Atashi no kokoro
Chinen Yuuri deaisuki
Atashi no yuri
kirei no hana
Makhluk terindah in Horikoshi gakuen.. hwahahahaXD
Siapa yang tidak meng-iya-kan ke-kawai-annya???
Hontou ni KAkkoi
matureeeeeeeeeee hansamuuuuuu
doko e?
disebut sebagai
kebahagiaan. . .
Lalu
dimanakah
Letak kebahagiaan itu. . . ?
^^^^^^^
Chinen Yuuri
my answer
>w<
fufufufufu >~<
About this blog
SeLamat Datang Di dunia ku~
kore wa my_worLd
di sini adaLah dunia dhe~
semuanya adalah impian harapan dan keinginan dhe~
hehehehe
gomen kalau terlalu narsis~ or lebay~
demo, iniLah dhe~
perasaan dhe~
impian dhe~
sumimasen hontou untuk teman-teman yang tidak suka
tapi bLog ini adalah penyaLuran inspirasi dhe-chan
seLamat datang
di dunia mimpi~ku
senang bisa berkenaLan dan bertemu dengan teman-teman semuanya~
terimakasih banyak
untuk kunjungannya di gubuk mungiL ini~
ini adaLah
dunia dhe-chan
\^~^/
nadheshiko_momoko


