Yoshi berdiri di pagar gerbang sekolah dhe chan. Cukup lama menunggu sosok gadis mungil itu keluar.
Ia bersandar saja di pintu pagar itu. Menikmati angin sepoi yang menyapanya lembut. Masih musim semi. Bunga sakura mekar di sepanjang jalan menuju sekolah dhe chan. Yoshi memandang lengan jaketnya. Disana tersemat satu kelopak sakura. Ia tersenyum. Warna pink yang lembut. Dhe chan suka sekali dengan warna itu. Tepatnya dengan warna sakuranya. Bukan karena warna pink-nya.
Lama ia menunggu. Tapi tak terdengar satu keluhanpun disana.
“Hmmmmphh”ia menarik nafas panjang. Mengingat.
Sudah lama sejak terakhir ia melewati pintu gerbang sekolah ini. 4 tahun yang lalu. Ia melewati gerbang ini dihari kelulusannya. Sejak itu, ia tak pernah datang kesini lagi. Banyak undangan yang datang dari klub musiknya terdahulu. Tapi tak pernah dihiraukannya. Ia cukup sibuk di kampusnya. Dan pekerjaan manggungnya. Yoshi termasuk golongan orang yang tak pandai berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, ia jarang mengikuti pertemuan semacam itu.
Hampir tak ada lagi anak-anak yang melewatinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia mendengar bisingnya gerombolan-gerombolan anak perempuan yang berbisik-bisik penasaran terhadap kehadirannya disana. Menyapanya dengan senyum atau hanya sekedar meliriknya. Tentu saja tak ada satu responpun yang keluar dari ekspresi wajah “cool”nya itu.
Masih dengan sabar dan tenang Yoshi menunggu.
Gerbang sekolah_
Jalan pulang_
My Fair Lady
Bagian 5
Pacar ku~
Sore itu langit tampak cerah.
Dhe chan dengan bawa’an bukunya yang berat
Jaket yoshi yang berkilau membelakangi matahari
Pemandangan yang kontras sekali
Dhe chan dengan kacamata miringnya
Dan senyum malu-malu Yoshi
Mereka bertemu~
Pacar ku~
Dia yang manis dan sedikitceroboh
“Yocchan?” gadis mungil itu tak percaya dengan kata-katanya sendiri. Sosok itu sudah jelaskan?
Tapi kok bisa?
Bergegas ia membopong buku-buku tercintanya. Setengah berlari ia melewati lapangan tennis yang sepi itu.
****
“Deg” jantung dhe chan berdetak cepat. Terasa sampai ke ujung jarinya.
Itu Yocchan. Menunggu di pintu gerbang.
Matanya berkilauan. Air matanya akan segera tumpah.
Ia begitu merindukannya.
Sudah 2 minggu sejak terakhir kali mereka bertemu.
“Yocchan~” panggilan sayang dhe chan untuk Yoshihiro pacarnya.
Laki-laki itu tersenyum. Rindu.
dhe chan berlari.
Segera menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu.
Café itu tampak lenggang, hanya ada dua orang disana. Di meja itu, Yoshi dan Akun terlihat berbincang serius.
Akun menatap Yoshi tak percaya.
“Eee Majii??” 9 ekspresi Akun sampai mengebrak meja.
Pertanyaan Akun dijawab anggukan Yoshi. Tampak malu ia sedikit menunduk.
“Kapan?” Tanya nya lagi.
“Umm beberapa minggu yang lalu”
“Haah? Selama itu kau baru memberitahu ku sekarang?” kelihatan tak rela Akun menggigiti lengan kaosnya.
“Lebih muda? Atau lebih tua?” Tanya Akun tak sabaran.
“Uhmm toshi shita” 10
“Uoooo sugeeeeiiii” 11 Akun sampai berbinar-binar. Tentu saja lebih muda ya.
“Berapa tahun ?”
“Gonenkan” 12
“Hah? 5 tahun?” Akun tampak bingung. Walau Yoshi itu sedikit aneh.
Tapi, Tak mungkinkan dia pacaran dengan anak-anak?
“Jarak usia” jelas Yoshi singkat.
“Oohh~” huhh dasar Yoshi. Harusnya kau tambahkan lebih banyak kosakata. Ingin sekali Akun memprotes laki-laki berwajah baby-face di hadapannya.
Yoshi tersenyum malu, pipinya sedikit merah.
Ahhh pemandangan ini jarang sekali tampak di wajah laki-laki. Pikir Akun, senang. Tersenyum puas dan lega. Akhirnya sahabatnya itu mau juga menceritakan kepadanya. Yoshi, 3 tahun lebih tua darinya. Tapi, jauh tampak lebih muda. Mungkin karena tinggi badannya ne? hahaha memang wajahnya yang imut. Jika berjalan dengan Yoshi, pasti dia dikira masih SMA. Padahal sebentar lagi dia lulus Kuliah. Sedangkan Akun malah baru saja memasukii dunia kampus. Akun memang bongsor, dia hampir 2 meter. Wajar saja kalau di sangka dia sudah bekerja.
“Hehehe daijyoubu bro!” Akun menepuk-nepuk punggung Yoshi. “Walau sedikit terlambat, yang penting kau sudah menyatakan dengan baik, hehehehe”
Masih tersenyum Yoshi memandang Akun. Tampak sedikit lega.
“Aku pergi, ya” kata Yoshi kemudian membayar pesanannya. Akun segera meng’iyakan setelah memeluk sahabat mungilnya itu, melambaikan tangannya, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Café tampak tambah sepi, setelah kepergian Yoshi. Hanya terdengar musik Mozart lembut dan wangi jus jeruk yang di tinggalkannya.
My Fair Lady
Bagian 2
Yoshi’s darling
9. Benarkah?
10. lebih muda
11. Keren!
12. 5 tahun
My Fair Lady
Bagian 3
Nadheshiko’s_darLing
Dia menjemputku
Berdiri di depan pintu gerbang sekolah
Jantungku seakan berdetak keluar dari rongganya
Yocchan~
Dia tampak keren sekali
Bersandar di tembok pagar
Memasukkan tangan di kantong jaket hitamnya
Langkahku terhenti
Ia menatap kearah ku
Tersenyum malu
Mata beningnya menatap ku rindu
Aaaah~
Yocchan >//<
Aku menghambur ke dalam pelukannya
“Tidak apa-apakan?
Dia pacarku~”
My Fair Lady_
Buku, Kartu anggota dan Perpustakaan
Perpustakaan sekolah tampak sepi pada jam seperti ini. Hanya ada beberapa siswa dan beberapa petugas piket yang berjalan mondar-mandirmenyusun buku di rak-rak tua
atau sekedar mengecek kartu anggota siswa. Sedangkan Kartu dhe chan sepertinya tertinggal di meja belajarnya. Memeriksa dompet pink nya dia sedikit bingung.
“Aku yakin sudah memasukkannya --_--;” keluhnya meratapi buku-buku berat yang sudah dipilihnya susah-payah dari tadi.
“hiks hasil penelusuranku~ Tsukiiiiiii >///<” Merengek lagi, penyakit “PeLupanya” tak berkurang juga. Tsuki hanya senyum-senyum saja dari tadi. Sudah terbiasa dengan dhe chan yang kelewat pelupa itu.
Masih merengek wajah dhe chan tampak merengsek diantara kertas-kertas yang entah kegunaannya apa ia simpan di dalam dompetnya. Tsuki menikmati masa-masa bersama dhe chan seperti ini.
“Tidak pernah bosan jika bersamamu dhe~” senyum Tsuki mengelus poni dhe chan lembut.
“Hooe? Tapi aku cukup bosan dengan penyakit “pelupaku Lho” jujur dhe chan. Manyun lagi untuk kesekian kalinya.
“Iya, udah milih bukunya?” Tsuki ingin menyudahi manyunan bibir dhe chan.
“Gak jadi, Tsuki-chan… dhe chan ini Lupa bawa kartu anggotanya seperti biasa~” aku-nya seakan menjelaskan pada buku-buku yang ingin di kembalikannya ke rak dengan enggan.
“Pakai punyaku aja dulu dhe” Tsuki menawarkan jasa.
“Tapi Tsuki kan juga pengen pinjam buku T3T”
“Gak apa-apa aku bisa pake punya Taka” jelas Tsuki senang.
“Hooee???” dhe chan kaget memandang Tsuki yang mengeluarkan sesuatu dari kotak_pensilnya.
“Nih~” katanya memperlihatkan kartu anggota perpus Taka yang masih “kosong melompong” sama seperti milik Hikaru yang di lihat dhe chan tadi siang. Kartu perpus yang malang, setahu dhe kartu milik Hikaru itu dipakai teman sebangkunya itu untuk membungkus kue dango-nya. Mata dhe chan membesar begitu juga mulutnya. Pemandangan yang disukai Tsuki. Wajah bego dhe chan. Tsuki tersenyum, senang sekali mengerjai teman manisnya itu.
“Yatta! Tsuki ga suki da!” 13 teriak dhe chan yang langsung disambut teguran dari penjaga perpus yang memelototinya.
“Dasar biang onar” seperti itulah dhe chan. Dimana-mana selalu ribut. Berisik dengan kesenangannya sendiri. Dengan bersemangat dhe chan membawa buku-buku kesukaannya. Dibantu Tsuki merapikan barang bawaannya dhe chan memasukkan ke tas nya yang sudah nampak terlalu penuh.
13. Suka dengan Tsuki
“Habis ini langsung pulangkan dhe?” Tanya Tsuki tak lama setelah langkah pertamanya keluar dari pintu Perpustakaan.
“Un! Hari ini kakak mau masak nasi kari kesukaan dhe, hehehe”
“Waahh enak donk~” Tsuki memasang tampang ingin sekali.
“Iyaa, Tsuki mampir aja ke rumah” tawar dhe chan tak kalah ingin.
“Umhh, pengen sih dhe tapi~” kata-katanya segera dimengerti dhe chan. Takaki sudah menunggunya duduk jongkok lagi di kursi taman perpustakaan sekolah.
“Yo! Dhe chan!” sapanya ramah. Masih memakai seragam basket nya. Rambut di kuncir ke belakang dengan bola di tangan kirinya. Tsuki segera mendekatinya.
“Tidak ganti baju?” Tanya Tsuki.
“Haha begini saja, kerenkan?” jawab Takaki menundukkan kepalanya sampai dekat sekali ke wajah Tsuki.
Melihat ini dhe chan sedikit malu.
“Pasangan norak” tapi keren. Menurut dhe chan seperti itu.
Si Takaki dengan Tsuki ini. –_–Dasar!
“Ya udah dhe duluan ya~” pamit dhe chan. Kelihatan keberatan dengan bawa’annya. Buku tugas sekolah di tambah beberapa buku tebal lagi dari perpustakaan.
“Biar ku bawakan separonya dhe” Tsuki mengejarnya.
“Daijyobu, dhe bisa sendiri”
“Demo”
“Gak apa-apa dhe kuat kok~ umhh dan juga gak mungkinkan kalian kencan sambil membawa buku dhe?” lirik dhe chan pada Takaki yang dilihatnya mengangkat bahunya.
“dhe~” Tsuki tampak tak enak. Ia memandang dhe chan. Sedikit memelas.
“Aduch Tsuki-chan.. beneran gak apa-apa ^ ^;
lagian malam ini bukunya mau dhe pake buat referensi” jelasnya panjang lebar.
*Buku, Kartu anggota dan perpustakaan*
Nadheshiko’s_darLing
Dhe~
“Berat~ --_--“ aduuch~ ini berat~” sepanjang jalanan dhe chan mengeluh.
“Ahhh~ harusnya tadi biar saja Tsuki bawakan setengahnya TxT” ngotot mengutuki dirinya sendiri dhe chan menyeret kaki-nya berat.
Biasanya disaat begini dhe chan akan menunggu Kegiatan Klub nya Ginko. Berharap bisa memanfaatkan lemak berlebih di pipi adiknya itu. Tapi, ini sudah kelewat sore. Ginko juga pasti sudah pulang naik sepeda gunung kesayangannya.
“Araa~ apa harus menyerettas sampai rumah?” putus asa dhe chan memikul buku-buku wajib bacanya.
Dhe chan memang gemar sekali membaca. Tapi, bukan buku pelajaran tentunya. Dia suka sekali dengan buku-buku sastra, dongeng dan buku-buku sejarah.
“aku aliran putih” itu katanya. Entah apa maksudnya =_=a
***
Sekolah sudah sepi sekali. Dhe chan melewati lapangan tenis dan melihat beberapa manager membereskan peralatan. Di sudut lapangan dhe chan melihat satu bola tennis yang terabaikan. Ingin sekali dia mengambilkannya atau sekedar berteriak memberi tahu manager yang masih kelas satu itu. Tapi, langkahnya terhenti. Matanya melihat jauh ke depan. Searah dengan tempat bola tennis mungil yang terabaikan itu. Lurus di depan gerbang sekolah.
Yoshi duduk sendirian di café BeautyfuLL_fLower’s tempat biasanya ia manggung dengan anak-anak band yang lain. Duduk di meja paling pojok memainkan sendok jus-jeruknya sedikit resah. Jari tangannya memutar-mutar jus itu saja, sambil sesekali meneguknya. Pikirannya sedikit melayang dari sana. Memandang balik pada kejadian-kejadian sebelumnya. Beberapa hari sebelum hari ini.
“Hmmm hi hi hi hi” ia tampak terkekeh. Manggut-manggut sendiri dan seperti biasa mengulum senyumnya malu-malu.
“Oi, bro!” sapa pria bertubuh besar dengan tampang timur-tengah yang kental sekali. Rambutnya sedikit ikal, dengan kaos hitam panjang yang sering dipakainya bekerja di café ini.
“Osh! Akun”, jawab Yoshi dengan senyum singkat .
“Hahaha seperti biasa, bro! jawaban yang tidak mengundang pertanyaan balik sama-sekali” tawa Akun membahana di café yang masih sepi itu. Sahabatnya itu tahu benar bagaimana watak Yoshi. Pendiam dan tidak banyak tanya. Sedikit pemalu dan sering menghindari tatapan langsung.
“Un,” Yoshi angguk-angguk setuju.
“Tumben kesini, tidak ada job manggungkan?
biasanya kamu tidak mau” kali ini Akun meliriknya.
“Uhmm, main” jawabnya datar. Memainkan sendoknya lagi.
“HAH?” Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Akun langsung memandang sahabatnya itu lekat-lekat. Duduk di depannya dengan mulut sedikit menga-nga.
“ANEH INI ANEH” pikir Akun penasaran. Tidak pernah sahabatnya itu bertindak aneh seperti hari ini. Memang sih dia pendiam tulen. Tapi duduk nampang di café sendirian sambil pesan jus-jeruk manis dan memainkannya selama berjam-jam ITU BUKAN YOSHIHIRO SAMA SEKALI!!!!!
“Anou, chotto-chotto”1 Akun berpikir keras memulai pertanyaan.
“Umh?” jawab Yoshi lagi.
“GYAAAAA” Akun berteriak dalam hati.
Matanya sampai melotot.
Nee? Yo-Yoshi menjawab pertanyaan yang belum dilontarkannya?
“Umh?”
dia dapat kosakata baru itu dari mana? Akun berpikir keras.
Ini aneh.
Pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum Yoshi sampai ke café ini.
Apa dia kerasukan? Atau sakit? Segera Akun mengukur suhu tubuh Yoshi. Menempelkan tangan kekar dan besarnya di jidat mungil Yoshi.
“Eehh?” Yoshi sedikit bergeser.
“Daijyoubu desu ka?”2 Tanya Akun khawatir.
“Iie, daijyoubu desu”3 jawab Yoshi mantap. Ia tak merasa sedang sakit atau semacam-nya. Di liriknya, Akun angguk-angguk setuju. Badannya memang tak panas dan tidak menunjukkan tanda-tanda demam.
1.Tunggu sebentar
2.Baik-baik saja?
3. Iya, baik.
Yoshi
Dua jam dia duduk disana. Memainkan jus-jeruknya. Menatap Akun yang berjalan mondar-mandir melayani pengunjung. Bertemu pandang beberapa kali dengan Akun yang tampak memperhatikannya juga dari tadi. Yoshi tidak ingin mengganggu pekerjaannya, juga tidak meminta untuk ditemani. Dia hanya ingin berada didekat orang yang dikenalnya itu.
My Fair Lady
Suasana café beberapa menit setelah itu.
Pengunjung memang masih sepi di jam bekerja seperti ini.
10.00 a.m
Akun melirik jam tangannya. Masih banyak waktu luang.
“Tidak kuliah?” Tanya Akun memancing pembicaraan. Sudah 25 menit sejak mereka bercakap-cakap tadi.
“Aku bolos” jawab Yoshi ringan.
Akun tercengang. Kali ini benar-benar kaget dibuatnya. Ia sampai memiringkan kepalanya. Tak percaya dengan jawaban Yoshi yang tiba-tiba itu.
“Ehee tumben” tak ingin memperlihatkan kekagetannya, Akun berusaha mendatarkan suaranya. Kalau sudah seperti ini biasanya…
Yatta, 4 sepertinya berhasil.
Kali ini Yoshi memandangnya. Saat yang tepat untuk bertanya. Pikir Akun senang.
“Pasti ada sesuatu yang terjadiKAN?” Tanya Akun menyelidik.
Yoshi sedikit menghindari tatapan maut Akun.
“Hehehe” jawabnya tersenyum malu. “chotto soudan ga arunda” 5
Akun memperhatikannya seksama.
My Fair Lady
Bagian 1
Yoshi’s darling
4. baguslah!
5. ada yang mau kuceritakan
Tentang~
Nadheshik0_Yamato
Rambutnya tak terlalu panjang, hanya sedikit lebih panjang dari bahunya. Memakai kacamata dengan minus 350 di kanan dan 250 di kiri dengan tambahan silinder di mata kirinya. Umh, dan satu tahi lalat mungil di bagian bawah mata kirinya. Hidungnya mancung, tampak terlihat menonjol di wajahnya yang mungil. Terkadang orang memanggilnya India atau Arab nyasar. Hehehe gambaran sedikit tentang dhe_chan, seperti itu biasanya ia di panggil.
Nilai akademik biasa-biasa saja. Tidak bodoh, tapi juga tidak bisa dibilang pintar sekali ^ ^; sangat senang bernyanyi walau suaranya pas-pas’an. Sedikit usil dan sangat polos. Perangainya ceria dan agak childish.
Tahun ini ia sudah kelas 2 SMA. Tapi, tidak bertambah tinggi juga sejak jaman SMP, 146 centimeter tidak pakai koma. Terkadang sedikit iri dengan pertumbuhan adiknya yang sudah 142 centimeter di kelas 1 SMP.
Ranko, adik bungsunya. Mungil dan menggemaskan. Sering mengajaknya bertengkar. Dan manja disaat-saat tertentu. Dhe chan memanggil nya Rum_chan. Karena Ranko sangat senang makan Gula-gula Arum manis.
Sudah?
Chotto~ dhe chan masih punya satu adik lagi.
Ginko. Adik laki-laki nya yang duduk di bangku SMA. Masih kelas satu, tapi tingginya sudah 164 centimeter. Dhe chan tidak iri dengan tinggi Gin, “wajar saja dia kan laki-laki” celetuknya ringan.
Ginko Sedikit tembem di kedua pipinya. Otot bahunya besar. Dia senang memancing dan memasak. Di klub sekolahnya, Ginko sangat ingin masuk klub memasak. Tapi tentu saja niat itu di urungkannya, ia yang mengaku cowok tampan itu langsung masuk klub Kempo ketika dhe chan ajak masuk klub memasak yang notabene sudah jelas cewek semuanya ^_^;
Nah, jadi dhe chan anak pertama?
Hehe bukan dhe chan masih punya dua kakak laki-laki lagi.
Tapi, ya sudahlah nanti saja mereka diceritakan.
Kita akan melirik kegiatan dhe chan sebentar.
Sepertinya ia sedikit mengantuk~
My Fair Lady
“Hoaaheeeemmm~ nemuiiii” 6 kantuk dhe chan tak tertahankan. Padahal ini baru jam 10 pagi. Matanya sedikit merah di balik bingkai kacamatanya.
“Dhe chan, di liatin sensei7 tuch~” tegur Tsuki yang duduk di depannya.
“He~ech” jawabnya singkat. Tidak heran kenapa temannya yang duduk di depannya itu yang malah menegurnya. Wong, Hikaru yang duduk di sampingnya malah sudah molor dari tadi. Dhe chan tak tega membangunkan, maaf ya /~_~\ .
“Hika~chan~ banguuun~” goda dhe chan menyubit pipi laki-laki kurus di sampingnya itu. Jidatnya tampak nong-nong. Tertunduk di balik buku paket Bahasa Inggrisnya.
“heemmmnyeem nyeem” jawaban tak jelas Hikaru di sambut dhe chan dengan anggukan setuju. “Ngantuk sekali katanya”.
“Aahh sebenarnya aku juga~” tapi rasa kantuk itu harus ditahan. Bisa gawat kalau ia harus berdiri di lorong lagi pada jam pelajaran yang satu ini. Bukannya sombong, Hikaru dan dhe chan sudah 3 kali tertidur di jam pelajaran yang sama --_--;
“Kalian berdua niat belajar atau tidak?” sensei bertanya seperti itu 2 minggu yang lalu. Ya, pertanyaan yang hanya bisa di jawab dhe chan dengan senyum geli.
“Aku niat kok~ tapi aku ngantuk” jawaban se’enaknya ini sedikit lagi terlontar dari bibirnya kalau saja Tsuki tidak memelototinya. Seakan tahu dengan jawabannya. “hehehe gomennasai deshita senseeei~”8 jawab dhe chan yang segera di’ikuti Hikaru sambil membungkuk dalam sekali.
“fufufu ^~^” tertawa geli saja kalau ingat kejadian itu. Hukuman selanjutnya adalah membersihkan kolam renang sekolah. Sampai sore, Hikaru dan dhe chan membersihkan kolam renang yang memang sengaja dikeringkan itu.
Tsuki menunggunya di samping kolam.
“Memang tidak boleh membantu mereka berdua” jelas Takaki-kun yang berjongkok disebelahnya. Terkekeh senang melihat Hikaru yang mengomel. Mengacungkan sikat lantainya ke Takaki yang malah menyuruhnya membersihkan sepatunya juga. Dhe chan pasrah saja. Terlihat senang malah.
“Sudah lama tidak main hi hi hi”
“TENG TENG TENG” waah bagus sekali bel istirahat berbunyi. Mata hikaru langsung melek sempurna. Di ikuti senyum gingsulnya.
“Sudah segar, Yaotome-kun?” Tanya sensei.
“Hoaaa?” kaget Hikaru melongo.
“Tolong antarkan buku tugas ini ke kantor Guru” perintah Sensei sambil tersenyum.
“Ehehe baik senseei~” jawab Hikaru pasrah.
“Tapi, sebelumnya rapikan dulu seragammu. Dan juga cuci muka dulu.” Setelah mengatakan itu sensei pun segera pergi.
“Gomee Hika-chan, tadi aku sudah membangunkanmu loh ~_~`” jelas dhe chan. bersandar di lengannya yang kurus.
“Biarkan saja, biar kapok” kata Tsuki membenarkan. Merapikan buku pelajarannya tanpa berbalik memandang Hikaru.
“Hahahhahahaha” Takaki di sebelahnya tertawa melihat muka bego Hikaru.
Sambil mengoceh tak jelas Hikaru pergi tanpa mengajak dhe chan.
“Auk ahhh~ nemuuiii --_--“ dhe chan merebahkan kepalanya di meja. Kali ini benar-benar ingin tidur.
*******
6. Mengantuk
7. Guru
8. Mohon maaf, Guru
“TENG TENG TENG”
Bel sekolah berbunyi lagi. Anak-anak yang lain langsung berhamburan membubarkan diri. Pergi ke klub atau langsung pulang.
Dhe chan tampak malas merapikan buku-buku pelajarannya.
“Yo! Aku duluan teman!” Hikaru langsung meloyor pergi setelah mengacak-ngacak rambut Dhe chan.
“Week” jawab dhe chan menjulurkan lidahnya.
“Umhh aku ke klub duluan ya?” kata Takaki kelihatan meminta ijin pada Tsuki.
“Iya, duluan aja. Aku dan Dhe mau ke perpus dulu” mendengar itu Takaki benar-benar lega. Karena dia paling anti dengan hal yang berbau buku. Termasuk sekolah. Dhe chan yakin, kalau tidak ada Tsuki, mungkin dia sudah menyusuri jalanan sepanjang hari dengan sepeda motor besarnya itu.
“Oke~ baik-baik ya~” senyumnya puas-lega. “Dhe~ tu benerin kacamata mu” sambungnya setelah membawakan buku tugas Tsuki (yang berat) duluan.
“Aku iri” dhe chan terperangah. Manyun menatap lagi buku-buku tugasnya.
“Hehehehe daijyoubu Dhe” Tsuki membawakan setengah buku Dhe chan dan tersenyum malu.
Mata dhe chan berbinar sempurna.
“Ooooh Tsuki` aku mencintaimu~” Peluk dhe chan manja.
KAWAI-KAWAI demo entah kenapa kamu mah kalo foto bareng Yuto kamu berasa jadi dewasaa bangeth chii
>//< ni piku ini
owwwwhh my GODDZZZZZZZZZZZ
KAKKKKOIIIIIIIIIIIIIIII
>////<
umpph? peLukan ma ino~peLukan ma yamachanme Okakenyeeaahhh seperti biasakamu mah mesra nya ma yama chii >//<*ngiri mode on*>>tapi gak apa2 Lah dari pada ma saLah satu onna<< wkwkwkXDD
Aiichhh suawmi ku tercinta~
Okaerinasai~ >///< aiyuk masuk ke rumah @^~^@
makasih Yuyan makasih Yukun
udah ngegendongin chii buad dhe~
kyaaaa >///< kawai nyaaaaaaaaaaah~~
wkwkwkwkXDD INi nich mode manja nya chii ma yummy hihihihi kawai nyah peLuk2 adek ku
sini peLuk dhe chan
kocchi-kocchi
\^----^/
yepz hari ini beLum ada ide ngisi my bLog jadi kita sent-sent piku aja yah cinta~
dhe chan itu chibi dan kawai... anak manis yang sangat mencintai chinen ahahaha (narsis mampues) gomen ne isinya Chinen semua dengan segala kegendengan imajinasiku yang polos ini... hahahaha polos dimananya say??? *digebukin sepatu chinen)
aku sangat suka fotografi (bener gak nich tulisannya?)
hehhe dimanapun kapanpun pengen poto2 terus~
i like my smiLe
aku menyukai senyumanku di kamera itu~
sangat tersiksa kalo disuruh poto tanpa senyum =_=