Malam senin, waktu aku handak guring mataku ngantuk banar sudah, padahal hanyar jam sapuluh. Ku pacul kacamataku, ku andak tang ranjang kamar. Habis tu hanyar ku itihi jadwal kuliahku gasan isuk.
“Oh, jam sembilan jua,” kawa ba’santai. Sabalum guring aku badoa. Kada lawas habis tu, taguring dah ku sampai pagi.
Aku kada ingat bamimpi apa, nyaman banar dah guring malam tadi. Habis minum ubat pang jua ku malam tadi, apa da lagi taguring banar ku. Parak jam anam hanyar ku bangun. Lagi datang bulan pang, jadi kada apa-apa kalu ku malandau. Ku simpuni buku-buku gasan kuliah, habis tu manyatrika baju. Lambat banar ku gawi barataannya, masih jam tujuh jua.
“Tok…tok…tok…Dhe…” ada yang mangatuk lawang kamarku.
“Eh? Husnul? Napa sungsung banar? Jam barapa gerang kita masuk?” Husnul maambili aku nang kaya biasanya jua, tapi ni sungsung banar kalu meambili jam seini.
“Kita masuk jam setengah delapan Dhe…”
“Hah? Bujur-bujur?” ancap kuambil jadwal. Astagfirullah… malam tadi aku salah malihat jadwal.
“Satumatlah, aku mandi dulu” langsung kuambil anduk, ancap ku turun ke kamar mandi. Syukur kada baantri. Biasanya jam seini banyak yang baantri mandi.
Kada lawas aku babaju, maambil sapatu hanyar ka parkiran kandaraan. Ku cuba memanasi kandaraan, tapi kada mau hidup jua. Astagfirullah… kenapa pulang kiandaraanku ni? Dua hari pang sudah kada ku pakai. Maraju kah jua? Ku cubai lagi, tapi kada mau jua. Husnul yang malihat aku kangalihan manyalai kandaraan langsung mandatangiku. Mambantui mangangkat kandaraan. Tapi nang ngarannya kami ni halus-halus urangnya. Aku 146cm na tahu am Husnul barapa, nang jalas inya tu awaknya halus pada aku. Dua urang halus nang kaya kami ni, kada kuat jua mangangkat kandaraan Mio yang barat. Batis ku tatindih ban balakang kandaraan sakit banar rasanya. Tapi, kada papa kami cubai pulang. Alhamdulillah… pas nang kadua bisa kami naik akan, hanyar ku cuba manyalai pulang. Dingin banar ai kandaraan ni pinanya.
Sampai di kampus, kami mancari kalas. Talambat dua puluh manit, syukur Dosen kada sarik.
Ya Allah… alhamdulillah… bisa sampai jua kami ka kampus. Kainanya kuitihi lagi bujur-bujur jadwal kuliah. Biar kada talambat pulang kami masuk kuliah.
Pagi itu aku terlambat bangun, padahal upacara bendera dimulai pukul tujuh pagi. Bergegas aku berlari ke kamar mandi dan tanpa sarapan langsung menuju sekolah. Sepanjang jalan aku mengendarai sepeda motor dengan kencang. Aku hanya memerlukan waktu lima menit. Sesampainya di pintu gerbang sekolah Pak satpam mencegat ku, dengan cepat ku gas sepeda motor untuk menghindari pak satpam. Terdengar teriakan terkejut dari Pak satpam, tapi aku tidak menghiraukannya lagi.
“Yang penting aku tidak terlambat upara bendera!”
Aku pun lolos di rintangan pertama. Ya, tinggal satu pintu pagar lagi untuk menuju halaman dalam sekolah.
“Huh… sekolahku ini sungguh menyusahkan saja. Ngerepotin banget! Halaman saja ada dua! Mana upacaranya di halaman dalam lagi!” dengan menggerutu aku menyetir sepeda motorku menyusuri jalan kecil di taman depan sekolah.
“Tet…tet…tet….” Lonceng tanda upacara sudah berbunyi.
“Aaaaah tidak sempat lagi menuju parkiran!” pekik ku.
Tanpa pikir panjang aku rem sepedaku dan meletakkannya sembarangan saja di depan kantor kepala sekolah. Pintu pagar terdekat ada di samping kantor guru yang bersebrangan dengan kantor kepala sekolah. Dengan cepat aku berlari menuju pagar terdekat sambil berdoa dalam hati.
“Ya… Allah… semoga Dhe tidak terlambat! Amin….”
Tinggal dua langkah lagi, pintu pagar akan ku lalui. Seketika itu juga langkahku terhenti ketika Pak Kasno menutup pintu pagarnya.
“Kyaaaaaaa!! Tidak! Tunggu bapak!” teriakku. Pak Kasno guru Akutansiku itu hanya tersenyum dan berlalu meninggalkaku.
“Wuaaa… Bapak tega!! Bukakan pintunya!!” aku menangis dan terduduk di depan pintu pagar.
“Habis sudah! Nasibku! Kali ini aku terlambat! Hiks… hiks… hiks…”
Mendengar aku yang menangis Pak Kasno pun kembali sambil menggelengkan kepalanya.
“Wong gak ku Kunci kok Dhe!” dengan logat Jawanya yang kental, Pak Kasno membukakan pintu dan tersenyum kepadaku.
“Ayo cepet! Nanti terlambat upacara!” perintah Pak Kasno terdengar menenangkan hatiku. Aku pun tersenyum lega dan mengangguk setuju sambil membungkuk aku melewati Pak Kasno dan langsung menuju halaman dalam sekolah. Beberapa siswa yang lain pun terlihat berlarian. Aku pun bergegas dan melempar tas ransel ku di bangku taman sekolah dan berlari kencang menuju barisan kelasku. Bergabung dengan teman-temanku yang lain.
“Hosh… hosh… save! Selamat aku selamat! Alhamdulillah….” Aku terbungkuk-bungkuk dan mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Teman-teman satu kelasku bertepuk tangan seperti menyambut kedatangan seorang pemenang lari.
“Apanya yang menyenangkan?” pikirku. Bibie menghampiriku dan menepuk pundakku. Temanku yang tinggi dan besar itu memujiku.
“Kecepatan larimu selalu mengagumkan Dhe, hehehe…”
“Un! Makasih! Phiuuuh…” masih terengah-engah ku seka keringat di keningku. “Kenapa kepalaku jadi berat?” pikirku. Bibie yang berdiri di sebelahku tersenyum simpul.
“Eeeeehhh??? Kok?” aku menjerit dan memandang ke sekitarku. Teman-temanku juga memandangku.
“Apa ini di kepalaku? Aaaaaaaaaa …” ternyata aku lupa melepas helm.
“Hahaha… hahaha… hahaha” suara tawa teman-temanku pun meledak riuh. Membuat semua pandangan peserta upacara menuju ke barisan kelas kami. Mereka menertawakanku dan ada juga yang menepuk-nepuk pundakku. Sebagian yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Rupanya dari tadi mereka menahan diri untuk tidak tertawa melihatku yang berlari dengan masih memakai helm di kepala.
Saat aku menyukai seseorang, hatiku sakit sama seperti sebelum-sebelumnya.
Sakit yang tidak ku ketahui kenapa… sakit yang dalam…
Apakah ini karena luka?
Apakah karena luka itu tergores lagi?
Atau karena luka itu takut hilang?
Perhatianku kini mulai beralih…
Doushiyo?
Ikuto aku tidak ingin kehilangan kamu….
***
Musim semi (Flower’s of Spring)
Langit di balik tirai kamar itu cerah. Menembus bilik-bilik tirai kamar, Naoki masih tertidur lelap tanpa menyadari jam pada ponsel yang di genggamnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
“Cuit cuit cuit…” suara burung kecoklatan itu terdengar riang. Burung-burung itu bermain diantara batang pohon sakura yang mulai bersemi. Pada pucuk-pucuk batang kecoklatan itu kuncup mungil pink mulai menyeruak secara alami diantara batang-batang kecoklatan yang terlihat serasi dengan warna burung-burung yang bernyanyi riang di taman rumah mungil keluarga Mogami.
Papan nama keluarga pada pagar rumah itu bertuliskan lima nama. Urutan pertama Masahiro (Kepala keluarga), kedua Naoko (Istri), ketiga Yoshihiro (anak pertama), keempat Naoki (anak kedua), dan kelima Naohiro (anak ketiga). Diantara pagar kayu itu tumbuh lilitan bunga ungu yang terawat dengan baik. Begitu memasuki pekarangan rumah sekawanan bunga nadeshiko melambai riang. Bunga mungil yang cantik, sangat disukai Naoki yang merawatnya dengan penuh cinta. Sementara bunga-bunganya bersemi Naoki masih terlelap diantara rentetan mimpi indahnya.
“Nao~chan ayo bangun… hari ini sekolah kan?” Naoko-san memanggil putri semata wayangnya itu dengan lembut membelai kening Naoki.
“Ummm~ Kaa-san~ “ Naoki menggeliat. Matanya masih terpejam, ia malas sekali untuk bangun.
“Nao-chan~ onegai~” dengan penuh kesabaran Naoko-san membangunkan Naoki yang memang sangat bermasalah jam bangun paginya.
“Haaaiii~” Naoiki hanya menyahut sekenanya, ia memejamkan matanya lagi
“Nao~chaaaannn~”
“...”
“Naooo~”
“...”
***
“BHUAAAGKKKHH” sebuah bantal melayang ke kepala Naoki.
“Aaaaaa itaaaaaaaai yoooooo!!!!” Naoki langsung membuka matanya dan melempar balik bantal yang mengggangunya.
“Maa~ Kaa-san Nao sudah bangun” Yoshihiro nyengir, kakak Naoki itu berdiri di pintu kamarnya.
“Yokatta na~ memang paling ampuh untuk minta tolong padamu, Arigatou Yocchan~” Naoko-san mencium pipi putranya lembut.
“Eeeee?” mata Naoki terbelalak kaget.
“Anou, Mama doushita no?” ia terkejut dengan suasana kamarnya yang ramai.
“Sudah bangun kan! Cepat mandi sana!” Yoshihiro melempar handuk ke wajah Naoki.
“Eeeee? Nande yo?”
“Aku tidak mau terlambat di hari pertama masuk sekolah!” Yoshihiro menarik tangan Naoki dan mendorongnya ke kamar mandi. Sementara Naoki masih bertanya-tanya kenapa kakaknya itu mau bersusah payah membangunkannya? Padahal biasanya Yoshihiro tanpa rasa iba sedikit pun meninggalkan adiknya itu. Membuat Naoki setiap hari berlarian mengejar bus untuk ke stasiun kereta.
“Ini aneh…” pikir Naoki sambil menggosok gigi matanya masih sesekali terpejam. Golongan darah AB memang yang paling sulit bangun pagi =_=a
***
Musim Panas “Summer_tea”
“Kriiik… kriiik… kriiik…” suara belalang mewarnai langit musim panas. Di taman yang berjarak tak jauh dari rumah keluarga Mogami terdengar dua langkah kaki yang saling berkejaran.
“Srek… srek… srek…” langkah kaki pertama itu milik Naoki. Sementara dibelakangnya menyusul suara sepatu yang lain.
“Tuk… tuk… tuk…”
“Mo iyo, Naoki-Chan” Yukie berusaha keras mengejar temannya yang berjalan cepat-cepat itu.
“Hayaku Yukie-chan!” Naoki terlihat gugup ia mengepalkan jari-jarinya.
“Hmmmph… Hidoi Naoki-tte” Yukie menghembuskan nafasnya pelan, ia terpaksa berjalan mengangkat rok panjangnya.
“Harus lebih dahulu sampai!” Naoki menggumam. Nafasnya nampak tak teratur, ia gugup.
“Doushi yo? Aku sudah menyuruh Chiba datang ke taman Kaguya. Sebenarnya apa yang ku pikirkan kemarin? Aaaaaaaaaaaaaa baka jan!” Naoki mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan hal sepenting itu terang-terang? Di depan banyak orang? “Kau mikir apa sih Naoki??”
---
“Chiba-kun Matte!!!!!!!!” Teriak Naoki memanggil kohai nya itu membuat orang-orang disekitarnya terdiam heran.
“Hai’ senpai…”anak laki-laki itu berhenti, ia menatap Naoki sedikit heran.
“Aaa… anou~” suara Naoki tercekat.
“Un?” anak itu tersenyum.
“Iie… jya” Naoki menunduk. Ia memutuskan pergi.
“Eee? Chotto matte senpai~” Chiba menahan lengan Naoki, membuatnya berbalik menghadap ke Chiba lagi.
“DATANGLAH KE TAMAN KAGUYA BESOK JAM SEPULUH PAGI! Sono ni, Atashi wa Chiba-kun ga Matteru na!!!” teriak Naoki sepenuh hati.
“Hosh hosh hosh” nafasnya sampai tak beraturan karena gugup yang menyerangnya dari tadi, sejak ia bertemu pandang dengan Chiba Ikuto adik tingkatnya yang ia sukai.
“Aaa…” sepertinya ia tersadar, saat ini puluhan mata memandangnya dengan tatapan membunuh. Mukanya sekarang jadi pucat, ia menatap kohai nya tadi. Ikuto terdiam, antara percaya dan tidak. Pupil matanya membesar, menandakan anak itu kaget sekali.
“Anou, gomen nasai” Naoki membungkuk di hadapan Ikuto. Anak laki-laki itu tersadar lagi, rupanya tadi karena terkejut ia jadi melamun.
“Hai~ Senpai… matteru yo~” dengan senyum khas nya Ikuto mengiyakan ajakan Naoki yang membuat anak gadis berambut panjang itu ternga-nga lebar-lebar *tak percaya.
“Eeee?”
“Yokatta na~ jya na senpai…” anak itu tersenyum lagi melambaikan tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum ia berbalik meninggalkan Naoki.
Ku pandangi wajahku di cermin. Masih sama dengan aku beberapa tahun yang lalu. Tetap kecil, mungil dan pendek. Apa bedanya?
“Tok-tok” ketukan itu membuyarkan lamunanku.
“De~” suara Ibu Kos langsung terdengar.
“Ah Ibu, mari masuk...” aku membukakan pintu dan mempersilakan masuk.
“Hari ini jadi pulang?” tanya Ibu Kost.
“Iya ibu, Insya Allah….”
“Tidak terasa, sudah empat tahun ya kamu disini.”
“Iya ya bu… Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya datang ke kost ini” lamunanku menyeruak lagi. Kembali kemasa aku yang beberapa tahun yang lalu.
***
“Aku tidak ingin menjadi dewasa!” kata-kata itu langsung meluncur dari bibirku.
Mama memperhatikanku dengan wajah yang khawatir. Sementara Papa yang dari tadi menceramahiku langsung terdiam.
Hening.
Terdengar rintihan tirai jendela kamarku… yang bergidik disapa angin.
Tidak ada suara apapun lagi.
Pertengkaran berakhir…
Papa… diam seribu bahasa. Tangannya masih mengepal di udara.
Ku pikir, tangan itu… tadi ingin menamparku.
***
Tak seperti hari-hari biasanya, ku telusuri koridor kampus dengan langkah gontai. Teman-teman ku memperhatikan langkah ku dalam diam. Berjuta tanya mungkin menyinggahi benak mereka. Aku yang biasanya berlarian sepanjang koridor, entah itu karena terlambat atau karena ingin berlarian saja, sekarang jadi diam begini.
Maafkan aku… masa-masa seperti itu mungkin tidak akan ada lagi….
Aku harus berubah.
Itulah yang mereka inginkan. Orang-orang dewasa yang ada di sekitarku.
***
Kuperhatikan... bayanganku… yang mulai memanjang. Hari semakin sore, matahari mulai menampakkan warna merah-jingga di langit.
Aku ingin pulang….
Pulang ke masa-masa itu. Dimana aku bisa dengan bebas bermain… dengan wajah lugu dan hati yang polos.
“Kenapa harus menjadi dewasa?
Padahal aku belum menginginkannya. Kenapa harus dipaksa?
Toh, mau tidak mau aku pasti jadi dewasa. Aku tidak ingin menjadi dewasa seperti
kalian! Para wajah munafik yang menebarkan luka.
Dewasa?
Cih! Hanya karena kalian sudah tua lalu bisa dikatakan dewasa?
Justru kalianlah yang tidak mengerti! Ketamakan, kebohongan, kekuasaan, materi,
itulah kedok sebenarnya dibalik kata ‘dewasa’ yang kalian banggakan itu”.
Semua pikiran bergejolak dalam kepalaku. Seperti ombak yang terus menghantam bibir pantai. Semuanya kini menjadi basah oleh pasir kehidupan, air mataku tumpah.
“Ada apa?” Nurul yang memperhatikanku dari tadi menyapaku lembut. Dia mengusap-ngusap punggungku.
“Tidak apa-apa kok Rul, tadi mata ku kelilipan” dengan senyum manisku balas tatapan kasih sayang dari sahabatku itu. Ia pun tersenyum simpul menyeka air mataku dengan jemarinya yang lembut.
“Kalau mau menangis, sini bersandar di bahuku” Nurul menawarkan semua perhatiannya dengan sentuhan-sentuhan yang tulus. Mengusap punggung tanganku dalam diamnya. Nurul sahabatku, sungguh sifatmu yang seperti inilah yang menurutku dewasa dalam arti yang sebenarnya. Tidak seperti tuntutan orang-orang dewasa diluar sana. Orang dewasa yang tidak kami mengerti, mereka selalu mengatakan “kalian tidak mengerti!” menuntut ribuan kewajiban yang harus kami turuti. Bukankah justru kalian, orang-orang dewasa yang tidak mau mengerti kami?
***
Hari itu dengan wajah yang dipenuhi keringat Mas Aji mengejarku. Tampak sekali mantan tunanganku itu kelelahan mengimbangi kecepatan lariku.
“Tunggu De…” pintanya di sela-sela nafasnya yang tidak beraturan.
“Mau apa?” tanya ku ketus. Aku sudah bersandar disisi pagar rumahku.
“Ada yang harus kita bicarakan” Mas Aji menyentuh bahuku pelan.
“Aku rasa itu tidak perlu lagi!” ku tepis tangan hangat itu dari bahu mungilku.
“Tapi…”
“Sudah jelaskan? Mas Aji sudah memilih kakak cantik itu. Jadi, sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk bersama denganmu.” aku mengucapkannya dengan cepat sekali.
“Maaf…” Mas Aji menunduk dihadapanku. Wajahnya pucat, sepucat kulitnya yang putih. Tangan yang kutepiskan tadi terlihat bergetar.
“Ya… wajar saja, orang yang berpikiran rasional seperti kamu pasti menganggap semua perjodohan di masa kecil itu adalah lelucon bukan? Aku mengerti, sangat mengerti.” Ku kepalkan jemari tanganku untuk menguatkan hatiku.
“Maaf... Karena hatiku yang lemah” ucapnya lirih. Aku tidak suka dengan situasi ini, inginku berteriak dihadapannya. “Kalau memang tidak mau, bukankah sebaiknya dari awal saja kamu menolakku?”
Tapi, sudahlah… tak ada gunanya juga aku marah-marah dengannya. Semuanya sudah jelas sekarang. Dengan begini, impianku untuk menjadi Guru pun mungkin bisa terwujud.
“Sudahlah! Aku tidak suka melihat laki-laki menangis! Pulang saja sana! Temui orang tua mu! Lalu batalkan perjodohan konyol ini! Selesaikan?!”
“Tapi…”
“Jangan khawatir, orang tuaku sudah mengetahui keputusanku. Sejak hari aku mengetahui perjodohan ini, aku sudah menolaknya, jauh sebelum Mas Aji menjalin hubungan dengan wanita lain. Lagi pula, mulai bulan depan aku akan kuliah. Jadi, tidak ada masalah….” ku pandang laki-laki di depanku itu dengan pandangan yang lurus dan tekad yang kuat. Dia harus tahu, aku tidak selemah seperti yang mereka pikirkan. Mungkin aku belum dewasa, tapi aku bisa memandang jauh kedepan.
***
“Hmmmm” kuhembuskan nafasku perlahan. Ya, keputusanku saat itu memang benar, sekarang aku bisa memetik semua hikmah dari perjalanan hidupku. Jika, dulu aku mati-matian mempertahankan hubunganku dengan Mas Aji mungkin aku tidak akan kuliah dan bisa lulus seperti sekarang.
“De, hati-hati di jalan ya…” Ibu kost mengantar kepergianku sampai di depan pintu.
“Terimakasih banyak atas bimbingan dari ibu selama ini.” Kupeluk ibu kost ku itu. Wanita yang sudah membimbingku selama empat tahun terakhir ini.
Rintik hujan mulai mewarnai langit. Aku pun segera bergegas, berpamitan dengan adik-adik tingkatku di kost. Kemudian dengan berlari-lari kecilku hampiri kakak laki-lakiku yang sudah menungguku di depan mobilnya. Kakakku yang baik hati. Empat tahun tidak bertemu, beliau terlihat semakin berwibawa dan dewasa.
“Ayo kita pulang De…” sapa kakakku ramah.
“Iya kak…” aku mengangguk setuju dan langsung masuk ke dalam mobil.
“Blaaaam!” pintu mobil pun ditutup. Laju mobil ini langsung menuju kampung halamanku. Papa… Mama… aku merindukan kalian….
Kini... rintik hujan sudah menjadi butir-butir gerimis yang menyapu jalan. Ku buka kaca jendela mobil perlahan. Ku sentuh butir-butir air itu. Sama dengan hari dimana aku berangkat, suara air hujan mengiringi kepergianku kali ini. Nyanyian hujan menghiasi langit. Ia menyapaku lembut… dingin dan basah. Mobil melaju di jalan Kayu tangi. Jalan yang setiap hari ku lalui menuju kampus. Akankah jalan ini merindukanku?
Membuat Paragraf Narasi, Eksposisi, Argumentasi dan Deskripsi
Membuat karangan minimal 2 paragraf dari empat jenis karangan berikut :
1.Argumentasi
2.Eksposisi
3.Narasi
4.Deskripsi
Paragraf Argumentasi
Manfaat Berpuasa
Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan bentuk latihan kita terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari berpuasa. Dengan berpuasa pola makan kita jadi lebih teratur. Meskipun hanya makan dua kali sehari, tetapi hal tersebut justru melatih bagian perut kita untuk tidak bekerja terus menerus. Organ dalam tubuh kita (perut) sama halnya dengan oderdil dalam kendaraan bermotor. Apabila terus-menerus dipakai/dijalankan akan rusak dan menyebabkan risiko terkena penyakit. Dengan berpuasa jasmani kita, khususnya bagian perut dilatih untuk makan secara teratur dan bertahap. Tidak tergesa-gesa dan memakan makanan yang lebih bergizi. Contohnya ketika berbuka puasa, banyak menu buah-buahan yang disediakan, selain itu kita juga dianjurkan untuk menyantap makanan yang manis. Hal ini menambah zat gula dalam tubuh kita, yang akan membangkitkan tenaga.
Dengan berpuasa rohani kita juga dilatih untuk bersabar. Selain menahan haus dan lapar, kita juga harus menahan hawa nafsu. Seperti menahan marah, menahan untuk tidak mengumpat, menahan untuk tidak melakukan hal yang boleh tapi secara berlebihan, misalnya tidur sepanjang hari. Kegiatan keagamaan juga banyak dilakukan di bulan Ramadhan. Banyak kegiatan pengajian, kegiatan ceramah agama yang menambah perbendaharaan amal. Tidak ketinggalan pula pesantren-pesantren Ramadhan yang diadakan oleh pihak sekolah-sekolah, baik dari SD, SMP, SMA, SMK dan lainnya. Jadi, puasa tidak hanya memberi manfaat untuk jasmani saja akan tetapi juga memiliki manfaat yang besar terhadap rohani kita.
Paragraf Eksposisi
Menanam dengan Menggunakan Media Pot
Tentunya sangat menyenangkan bila di sekitar halaman rumah kita dipenuhi oleh berbagai macam tanaman. Tetapi, saat ini sangat sulit menemukan rumah dengan halaman yang cukup luas untuk menjadi media tanam. Salah satu tekhnik pemecahan dari masalah ini adalah menanam tanaman dengan media pot sebagai jalan keluarnya.Agar rumah kita tampak asri walaupun halaman rumah kita sempit. Hal pertama, yang harus kita perhatikan adalah ruang tempat kita meletakkan tanaman, cukup besar atau tidak. Yang kedua, kita bisa menggunakan pot yang berukuran sedang dan dari bahan yang tahan lama/awet. Ketiga, agar tanaman tidak mudah mati, pemilihan media tanah juga berperan penting. Tanah yang gembur akan menyuburkan tanaman, tetapi bila didalam pot, tanah gembur ini akan mudah mengeras dan membuat tanaman tidak subur. Cara untuk mengatasinya adalah kita bisa memberikan sedikit sekam padi atau serpihan sisa-sisa gergajian kayu dengan perbandingan 3:1 dengan tanah. Cara ini akan membuat tanah tidak cepat mengeras. Dengan bagian dasar pot adalah tanah gembur, kemudian sekam padi, dan yang paling atas lagi adalah tanah gembur dengan memberikan sedikit bebatuan/kerikil kecil agar pot terlihat lebih asri.
Pada penanaman tumbuhan yang kita inginkan jangan lupa untuk mengingat kondisi rumah dan keuangan kita. Bagaimana supaya tampak indah dan tentu saja tidak banyak menguras kantong. Jika tidak ingin banyak mengeluarkan uang untuk hobi kita yang satu ini, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menanam bunga atau tumbuhan lain dengan barang-barang bekas seperti: Kaleng cat, kaleng susu, kaleng oli atau bahan-bahan plastik dan barang-barang bekas lainnya. Menanam dengan media pot yang terbuat dari plastik, akan lebih tahan lama dibandingkan dengan pot yang terbuat dari kaleng. Karena akar tumbuhan tidak mudah menembusnya, seperti pada bahan kaleng yang akan keropos jika sering terkena sinar matahari dan air hujan. Berikutnya, sebelum memasukkan tanah kedalam pot jangan lupa memeriksa ada cacing tanahnya atau tidak. Hewan mungil yang satu ini memang menyuburkan tanah, tetapi apabila di dalam pot bisa menjadi hama tanaman yang memakan semua nutrisi-nutrisi bagi pertumbuhan tanaman.
Paragraf Narasi
Belajar Bersama
Menjelang ujian akhir semester genap, Arashi, Kinki dan Koki memutuskan untuk belajar bersama. Mereka tidak pulang kampung dengan alasan tidak mau terganggu waktu belajar dengan kesibukan di rumah. Mereka berencana menghabiskan waktu minggu tenang sebelum ujian dengan belajar. Mengingat banyaknya bahan ujian dan tugas-tugas akhir yang menumpuk. Hari pertama liburan telah dijadwalkan bersama, yaitu merapikan kamar kost masing-masing. Tidak lucu jika saat ingin belajar kondisi ruangannya berantakan. Oleh karena itu, semua kegiatan selain belajar harus diselesaikan di hari pertama libur. Seperti merapikan kamar, mencuci baju, atau mencuci sepeda.Setelah selesai, semua wajib lapor dengan mengirim pesan singkat atau menelpon.
Pada hari kedua di minggu tenang ini barulah jadwal belajar yang sesungguhnya. Hari pertama belajar bersama mereka putuskan untuk meneliti seberapa besar kesiapan mereka menghadapi ujian. Seperti memeriksa kelengkapan tugas-tugaskuliah, dan materi-materi catatan. “Saling melengkapi” itulah moto ketiga sahabat itu. Belajar kelompok di mulai dari kost Kinki yang letaknya tak jauh dari perpustakaan daerah. Jadi ketika mengalami kesulitan, ketiga pemuda itu bisa melarikan diri ke perpustakaan daerah tersebut untuk meminjam buku. Selama empat jam mereka berkutat dengan buku catatan masing-masing. Akhirnya Kinki tertidur diantara kesibukannya menyalin catatan Arashi.
“Oi! Ki, bangun!” Arashi melempar Kinki dengan bantal.
“Hoaaaheemm~” Kinki menguap dan dengan menggerutu ia melanjutkan salinan catatannya. Sementara Koki sibuk cekikikanmeledekinya.
“Apa? Mau ku lempar juga” Ucap Kinki manyun sambil mengangkat bantalnya.
“Hahahahaha” Koki dan Arashi pun tertawa kencang yang mengakibatkan mereka terkena teguran dari Kakak angkatan mereka yang tinggal disebelah kamar kost Kinki.
Hari-hari berikutnya pun mereka belajar dengan giat. Santai tetapi terarah. Ketika hari ujian tiba, ketiga sahabat itu sudah siap mental untuk berjuang menghadapi ujian akhir semester mereka dengan bekal ilmu dan rasa percaya diri.
Paragraf Deskripsi
Keindahan Bunga diantara dua musim
Salju melapisi kelopak bunga ume dengan lembut. Warna putih yang berkilau diantara embun pagi yang berpendar cahaya mentari. Ranting-ranting bunga ume di patuki burung-burung kecil yang terlihat sedikit bergidik disapa angin musim dingin di awal tahun itu. Bulan februari yang dingin, tidak menyurutkan keindahan kelopak bunga ume yang bermekaran dengan anggun di pucuk dahan-dahannya yang mungil. Merahwarna kelopak sekawanan bunga ume itu. Begitu mempesona, angin musim dingin pun menerpanya juga dengan kebekuan yang tak pernah pandang bulu. Sama rata, seperti pada pohon-pohon yang terus tumbuh walau pun daunnya sudah rontok semua pada musim gugur yang lalu. membawa setumpuk salju yang menimbun akar-akarnya.
Tukang kebun terlihat meninggalkan jejak sepatu botnya di atas salju yang memenuhi halaman. Jejak itu menuju kebun persik yangakan mulai tumbuh lagi bulan depan. Pohon-pohon persik itu memulai aktivitasnya lagi setelah hibernasi di musim dingin. Begitu salju meleleh di awal musim semi, pucuk-pucuk bunga persik mulai menyeruak diantara ranting-rantingnya. Menampilkan warna merah muda yang lembut. Musim semi dengan taburan bunga persik. Bunga-bunga pink itu akan menggantikan pemandangan kelopak merah bunga ume di akhir musim dingin.
dhe chan itu chibi dan kawai... anak manis yang sangat mencintai chinen ahahaha (narsis mampues) gomen ne isinya Chinen semua dengan segala kegendengan imajinasiku yang polos ini... hahahaha polos dimananya say??? *digebukin sepatu chinen)
aku sangat suka fotografi (bener gak nich tulisannya?)
hehhe dimanapun kapanpun pengen poto2 terus~
i like my smiLe
aku menyukai senyumanku di kamera itu~
sangat tersiksa kalo disuruh poto tanpa senyum =_=